Jawa Timur punya petani milenial terbanyak, tapi proporsi tertinggi justru ada di timur Indonesia. Angka-angka Sensus Pertanian 2023 yang jarang dibahas.
Angka 21,93 persen sudah sering dikutip: itulah porsi petani milenial, berusia 19 sampai 39 tahun, dalam Sensus Pertanian 2023 (ST2023) yang dirilis Badan Pusat Statistik. Tapi di balik satu angka nasional itu ada peta yang jauh lebih beragam. Di beberapa daerah, petani muda nyaris setengah dari seluruh petani. Di tempat lain, porsinya terus menyusut.
Menurut hasil pencacahan lengkap ST2023 tahap I, jumlah usaha pertanian perorangan di Indonesia tercatat sekitar 29,34 juta unit. Angka ini turun sekitar 7,45 persen dibanding Sensus Pertanian 2013, atau berkurang kira-kira 2,36 juta unit dalam satu dekade.
Dari sisi pelaku, BPS mencatat sekitar 28,19 juta petani. Sebanyak 6.183.009 di antaranya berusia 19 sampai 39 tahun, itulah yang menghasilkan angka 21,93 persen. Dengan kata lain, sekitar empat dari lima petani Indonesia berusia di atas 40 tahun.
Secara absolut, Jawa Timur adalah rumah bagi petani milenial terbanyak, yaitu 971.102 orang. Itu setara sekitar 15,71 persen dari seluruh petani milenial di Indonesia. Hal ini masuk akal mengingat Jawa Timur adalah salah satu provinsi dengan jumlah petani terbesar sekaligus sentra padi, jagung, tebu, dan hortikultura.
Tapi jumlah besar tidak selalu berarti proporsi besar. Di daerah dengan banyak petani, petani muda bisa saja tetap menjadi minoritas.
Gambaran sebaliknya muncul di Papua Barat. BPS provinsi setempat mencatat petani milenial mencapai sekitar 42,77 persen dari total petani di sana. Jumlah absolutnya memang kecil dibanding Jawa, tapi porsinya hampir dua kali lipat rata-rata nasional.
Ada beberapa dugaan mengapa ini terjadi. Struktur penduduk di wilayah timur relatif lebih muda, dan pilihan pekerjaan di luar pertanian lebih terbatas. Pertanian juga masih menjadi bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari, bukan semata pilihan karier. Dugaan ini perlu diuji dengan data lanjutan, tapi kontrasnya jelas.
Di sisi lain, data dari beberapa provinsi menunjukkan generasi muda yang menjauh dari sawah. Di Sumatera Selatan misalnya, porsi pengelola usaha pertanian perorangan berusia 25 sampai 34 tahun turun dari 18,38 persen pada 2013 menjadi 14,11 persen pada 2023. Di tingkat kabupaten, angka petani milenial di beberapa sentra pertanian Jawa bahkan berada di bawah 15 persen.
Program regenerasi petani sering dirancang seragam dari pusat. Padahal tantangannya berbeda. Di Jawa Timur, persoalannya mungkin bukan jumlah anak muda yang bertani, melainkan luas lahan yang makin sempit dan akses ke pasar. Di Papua Barat, petani muda sudah ada, tapi butuh dukungan sarana, penyuluhan, dan rantai pasok yang lebih pendek. Di daerah dengan porsi muda yang terus turun, pertanyaannya adalah apa yang membuat bertani kalah menarik dibanding pekerjaan lain.
Kalau kamu anak muda yang sedang menimbang pulang ke desa, angka-angka ini bisa dibaca dua arah. Di satu sisi, kamu termasuk minoritas. Di sisi lain, minoritas berarti ruang: lebih sedikit pesaing yang paham teknologi, pemasaran digital, dan cara mengakses pembiayaan. Banyak program pemerintah dan lembaga keuangan kini secara khusus menyasar kelompok usia ini.
BPS masih merilis hasil lanjutan ST2023 secara bertahap, termasuk data per subsektor dan per kabupaten. Kalau kamu ingin melihat angka daerahmu sendiri, publikasi BPS provinsi dan kabupaten adalah tempat terbaik untuk mulai.
Sumber: Badan Pusat Statistik (Hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian 2023 Tahap I, termasuk rilis BPS provinsi Jawa Timur, Papua Barat, dan Sumatera Selatan), pemberitaan Antara dan Detik tentang rilis ST2023.
— sampai jumpa di ladang