Program kerja sama Kementan dan IFAD ini menjangkau hampir 200 ribu anak muda di empat provinsi sebelum berakhir Desember 2025. Apa yang berhasil, dan apa yang perlu diteruskan.
Bagaimana cara membuat anak muda mau bertani? Pertanyaan ini sudah dicoba dijawab oleh banyak program. Salah satu yang paling besar dan paling lama adalah YESS, singkatan dari Youth Entrepreneurship and Employment Support Services. Program ini resmi berakhir pada Desember 2025, sehingga sekarang saat yang tepat untuk menengok hasilnya.
YESS adalah kerja sama Kementerian Pertanian, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), dengan IFAD, lembaga keuangan internasional di bawah PBB yang fokus pada pembangunan pertanian dan perdesaan. IFAD menyediakan pembiayaan hingga sekitar 55,3 juta dolar AS untuk periode 2019 sampai 2025.
Sasaran program adalah anak muda berusia 17 sampai 39 tahun yang berdomisili di wilayah program. Kegiatannya berjalan di empat provinsi: Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, tersebar di belasan kabupaten.
Ada beberapa jalur yang ditawarkan. Pertama, pelatihan kewirausahaan dan teknis pertanian. Kedua, magang di perusahaan atau usaha tani yang sudah mapan, termasuk program magang bersertifikat. Ketiga, bantuan permodalan berupa hibah kompetitif bagi peserta yang punya rencana usaha. Keempat, penguatan kapasitas sekolah-sekolah vokasi pertanian agar lulusannya lebih siap kerja atau berwirausaha.
Di tingkat kabupaten, besaran hibah bervariasi. Di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan misalnya, nilai bantuan untuk peserta dilaporkan berkisar Rp25 juta sampai Rp50 juta.
Menurut laporan pelaksana program, YESS menjangkau 198.556 anak muda di wilayah perdesaan. Dari jumlah itu, 79.838 orang mengembangkan usaha berbasis pertanian, dan 59.628 orang mengalami peningkatan pendapatan.
Angka-angka ini perlu dibaca dengan cermat. Menjangkau berarti terlibat dalam setidaknya satu kegiatan program, belum tentu menjadi petani penuh waktu. Tapi rasio peserta yang benar-benar membangun usaha, sekitar dua dari lima, termasuk lumayan untuk program skala besar.
Pertama, anak muda tidak hanya butuh modal. Program yang menggabungkan pelatihan, pendampingan, dan akses pasar cenderung lebih berhasil dibanding yang hanya membagi uang. Magang di usaha yang sudah berjalan memberi gambaran nyata tentang risiko dan rutinitas bertani.
Kedua, pertanian bagi anak muda tidak selalu berarti menanam. Banyak peserta yang justru masuk ke hilir: pengolahan, pengemasan, pemasaran daring, atau jasa seperti penyediaan bibit dan sewa alat. Rantai nilai pertanian punya banyak pintu masuk.
Ketiga, keberlanjutan setelah program selesai adalah tantangan terbesar. Hibah dan pendampingan berhenti ketika proyek berakhir. Beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan dilaporkan sudah menyiapkan program lanjutan dari dana daerah untuk meneruskan pembinaan alumni YESS. Model seperti ini penting agar investasi enam tahun tidak menguap.
Bagi kamu yang tertarik tapi tinggal di luar empat provinsi itu, atau baru mendengar program ini setelah selesai, jangan berkecil hati. Kementerian Pertanian masih menjalankan berbagai program regenerasi petani, termasuk pelatihan di balai-balai pelatihan pertanian dan pendidikan di politeknik pembangunan pertanian. Dinas pertanian di banyak daerah juga punya program petani milenial sendiri.
Untuk permodalan, Kredit Usaha Rakyat dengan bunga flat 6 persen pada 2026 bisa menjadi pilihan setelah usahamu berjalan. Dan jaringan alumni YESS sendiri, yang tersebar di empat provinsi, bisa menjadi tempat belajar dari sesama petani muda yang sudah lebih dulu memulai.
Sumber: Kementerian Pertanian (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian), International Fund for Agricultural Development (IFAD), pemberitaan Antara dan Warta Ekonomi tentang pelaksanaan YESS.
— sampai jumpa di ladang