Data harga cabai, bawang, dan beras dari pemerintah bisa diakses gratis lewat ponsel. Cara membacanya supaya kamu punya patokan saat menawar.
Petani sering berada di posisi paling lemah saat menawar. Pembeli datang dengan informasi harga dari berbagai pasar, sementara petani hanya tahu harga yang disebut tetangga minggu lalu. Padahal pemerintah menyediakan data harga harian yang bisa diakses siapa saja secara gratis. Masalahnya, belum banyak yang tahu cara membacanya.
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS Nasional) dikelola Bank Indonesia bersama pemerintah daerah. Situs ini menampilkan harga sejumlah komoditas pangan strategis, seperti beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, daging, telur, gula, dan minyak goreng. Datanya dikumpulkan dari pasar-pasar di banyak kota dan dapat dilihat per provinsi, per kota, dan per tanggal.
PIHPS membedakan beberapa tingkat harga, antara lain pasar tradisional, pasar modern, pedagang besar, dan produsen. Perbedaan tingkat inilah yang paling berguna bagi petani.
Sumber kedua adalah Panel Harga Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas). Panel ini juga menampilkan harga harian di tingkat produsen, pedagang besar, dan pedagang eceran untuk komoditas pangan utama, dilengkapi peta dan grafik perkembangan harga.
Selain itu, Kementerian Perdagangan mengelola sistem pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar-pasar daerah. Ketiganya bisa saling melengkapi.
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah membandingkan harga jual di sawah dengan harga eceran di pasar. Tentu saja selisihnya besar, dan itu belum tentu berarti kamu dicurangi. Di antara sawah dan pasar ada biaya angkut, sortir, susut, bongkar muat, dan margin pedagang.
Yang lebih tepat: bandingkan tawaran yang kamu terima dengan harga di tingkat produsen atau pedagang besar di kabupaten atau provinsimu. Jika tawaran pembeli jauh di bawah harga produsen di daerah yang sama, kamu punya alasan kuat untuk menawar lebih tinggi atau mencari pembeli lain.
Pertama, buka situs PIHPS Nasional atau Panel Harga Pangan dari ponselmu. Keduanya bisa diakses lewat peramban tanpa perlu mendaftar.
Kedua, pilih komoditas yang kamu tanam, lalu pilih provinsi dan kota terdekat. Jika kotamu tidak tersedia, pilih kota sentra terdekat yang menjadi tujuan utama hasil panenmu.
Ketiga, perhatikan tren, bukan hanya angka hari ini. Lihat grafik dua sampai empat minggu terakhir. Harga yang sedang naik berarti posisi tawarmu menguat; harga yang sedang turun berarti mungkin lebih baik menjual segera sebelum makin jatuh.
Keempat, catat harga di tingkat produsen dan pedagang besar pada hari kamu akan menjual. Bawa angka ini saat bernegosiasi.
Harga resmi biasanya mengacu pada kualitas rata-rata. Cabai yang sudah disortir, bersih, dan seragam wajar mendapat harga lebih baik; cabai yang tercampur busuk atau patah tangkai wajar mendapat potongan. Perhatikan juga satuan: sebagian besar data dalam rupiah per kilogram, sementara transaksi di lapangan kadang memakai ikat, karung, atau borongan per petak.
Data pemerintah punya keterbatasan. Tidak semua komoditas dan tidak semua daerah tercakup. Ada jeda antara pengumpulan dan publikasi. Harga di tingkat produsen juga tidak selalu tersedia untuk setiap kota. Gunakan data ini sebagai patokan, bukan angka mutlak.
Papan harga Jurnal Tani menampilkan sebagian data dari PIHPS dalam tampilan yang lebih ringkas, termasuk grafik perkembangan dan perbandingan antarkomoditas. Kamu bisa membuka halaman komoditas untuk melihat tren harga sebelum memutuskan kapan dan ke mana menjual.
Pengetahuan harga tidak otomatis membuat tawaran naik. Tapi petani yang datang dengan data bisa bernegosiasi dengan lebih percaya diri, dan kedua pihak punya acuan yang sama untuk sampai pada harga yang adil.
Sumber: Bank Indonesia (PIHPS Nasional), Badan Pangan Nasional (Panel Harga Pangan), Kementerian Perdagangan.
— sampai jumpa di ladang