Sayuran hidroponik yang kerdil atau daunnya menguning sering bukan karena bibit, tapi karena larutan nutrisi. Cara memakai TDS meter dan pH meter dengan benar.
Dalam hidroponik, tanaman tidak mendapat makanan dari tanah. Semua unsur hara datang dari larutan nutrisi yang kamu racik. Artinya, kamu memegang kendali penuh, dan kesalahan juga sepenuhnya di tanganmu. Kabar baiknya, ada dua alat murah yang bisa membuat urusan nutrisi jauh lebih terukur: TDS meter dan pH meter.
Nutrisi hidroponik yang paling umum dijual di Indonesia adalah AB mix. Disebut begitu karena terdiri dari dua pekatan terpisah, A dan B. Pekatan A biasanya mengandung kalsium, sedangkan B mengandung sulfat dan fosfat. Jika dicampur dalam kondisi pekat, kalsium akan bereaksi membentuk endapan yang tidak bisa diserap tanaman. Karena itu, A dan B selalu dilarutkan ke air secara terpisah, satu per satu, lalu diaduk.
TDS meter mengukur jumlah padatan terlarut dalam air, biasanya dinyatakan dalam ppm. EC meter mengukur daya hantar listrik larutan, biasanya dalam satuan mS/cm. Keduanya pada dasarnya mengukur hal yang sama: seberapa pekat larutan nutrisimu.
Yang sering tidak disadari: TDS meter sebenarnya mengukur EC, lalu mengonversinya ke ppm dengan faktor tertentu. Ada alat yang memakai faktor 0,5 dan ada yang 0,7. Akibatnya, larutan yang sama bisa terbaca berbeda di dua alat yang berbeda. Kalau kamu mengikuti tabel nutrisi dari internet, pastikan skala yang dipakai sama dengan alatmu, atau lebih aman lagi, gunakan angka EC.
Prinsip umumnya: sayuran daun seperti selada, pakcoy, dan kangkung membutuhkan larutan yang lebih encer dibanding tanaman buah seperti tomat, cabai, atau melon. Bibit muda juga butuh larutan lebih encer dibanding tanaman dewasa.
Praktik yang banyak dipakai petani hidroponik adalah memulai dengan kepekatan rendah saat pindah tanam, lalu menaikkannya bertahap seiring pertumbuhan. Gunakan rekomendasi dari produsen nutrisi atau penyuluh sebagai titik awal, lalu sesuaikan berdasarkan pengamatan tanamanmu sendiri.
Gejala larutan terlalu encer biasanya berupa pertumbuhan lambat dan daun pucat. Gejala terlalu pekat antara lain ujung daun seperti terbakar, layu di siang hari meski air cukup, dan akar kecokelatan.
Kepekatan yang benar tidak ada artinya jika pH larutan salah. pH memengaruhi ketersediaan unsur hara; di luar kisaran tertentu, beberapa unsur menjadi sulit diserap meski jumlahnya cukup. Untuk sebagian besar sayuran hidroponik, kisaran pH yang umum direkomendasikan adalah sekitar 5,5 sampai 6,5.
Air sumur atau PDAM di Indonesia kadang bersifat basa atau mengandung kapur. Ukur pH air baku sebelum mencampur nutrisi. Jika terlalu tinggi, gunakan larutan penurun pH khusus hidroponik secara bertahap, sedikit demi sedikit, sambil terus mengukur.
Ukur TDS atau EC dan pH setiap hari, idealnya pada jam yang sama. Di cuaca panas, tanaman menyerap air lebih cepat daripada nutrisi, sehingga larutan menjadi lebih pekat. Tambahkan air bersih jika angka naik, dan tambahkan nutrisi jika angka turun.
Setiap satu sampai dua minggu, pertimbangkan untuk mengganti seluruh larutan. Seiring waktu, tanaman menyerap unsur tertentu lebih banyak dari yang lain, sehingga komposisi larutan menjadi tidak seimbang meski angka TDS terlihat normal.
Kalibrasi alat secara berkala dengan larutan kalibrasi. TDS dan pH meter murah cenderung bergeser setelah beberapa bulan.
Buat catatan sederhana: tanggal, angka TDS atau EC, pH, suhu air, dan kondisi tanaman. Setelah satu atau dua siklus panen, kamu akan punya data sendiri tentang kepekatan yang paling cocok untuk instalasimu, air di lokasimu, dan cuaca di daerahmu. Itulah yang membedakan hobi dari usaha.
Sumber: Kementerian Pertanian (publikasi teknis budidaya hidroponik), literatur hortikultura tentang nutrisi larutan dan pH, panduan produsen nutrisi AB mix.
— sampai jumpa di ladang